Skip to content

Syekh ‘Afifi Utsman, Guru Besar Al-Azhar yang Tiada Henti Mengajar

Sebuah riwayat hidup seorang ulama besar yang berjiwa pendidik. Di Universitas Al-Azhar sang guru besar ini terus mengajar melampaui usia pensiun.

FOTO Syekh 'Afifi Utsman salah satu guru besar dan pengajar pionir di Universitas Al-Azhar (Istimewa)
FOTO Syekh 'Afifi Utsman salah satu guru besar dan pengajar pionir di Universitas Al-Azhar (Istimewa)

Ia adalah alim nan fakih bernama Afifi bin Hassanain bin Utsman Al-Quwaisni Al-Hanafi Al-Azhari. Ia dilahirkan pada tanggal 19 Safar 1296 H (11 Februari 1879 M) di sebuah desa bernama Syubra Qubalah, Markaz Quwaisna, Provinsi Al-Munufiyyah, Mesir. Kepada daerah Al-Quwaisni inilah ia dinisbahkan. Sebuah daerah yang mencetak salah satu Syekhul-Azhar, yaitu Syekh Hasan Al-Quwaisni. Selain itu, ia juga dinisbahkan kepada Al-Hanafi yang merujuk kepada mazhab fikih Imam Abu Hanifah yang ia anut. Adapun Al-Azhari, merujuk kepada Al-Azhar tempat ia menuntut ilmu.

Masa Belajar dan Mengajar

‘Afifi Utsman kecil tumbuh-besar di Desa Syubra Qubalah. Di sini, ia masuk ke dalam sebuah Kuttab untuk menghafal Al-Quran, mempelajari dasar membaca dan menulis, hingga kemudian pergi untuk belajar di Masjid Al-Azhar. Di Al-Azhar, sebagaimana sistem terdahulu, para talib menetap dan berproses di dalam serambi-serambi yang ada di dalam masjid yang dikenal dengan istilah Riwaq. Di sana, ia belajar dengan sungguh-sungguh, terlebih dalam mempelajari mazhab Hanafi. Setelah melalui masa belajar, beliau mengajukan diri untuk mengikuti ujian Syahadah Al-‘Alimiyyah pada tanggal 22 Jumadilakhir 1326 H (21 Juli 1908 M) dan berhasil memperoleh lisensi tertinggi Al-Azhar itu dengan derajat ketiga.

Bisakah Kita Beragama tanpa Mazhab?
Kembali ke Al-Quran & sunnah kerap menjadi jargon dalam beragama. Tulisan ini menjawab persoalan itu plus memaparkan pentingnya bermazhab.

Tidak diketahui kepada siapa beliau belajar selama di Al-Azhar, karena minimnya buku-buku sejarah yang bercerita tentang kisah hidup beliau. Namun, yang jelas, setelah mendapatkan syahadah, Syekh ‘Afifi Utsman dilantik menjadi pengajar di Masjid Al-Ahmadi Thantha pada tanggal 26 Rabiulawal 1327 H (17 April 1909 M). Ketika itu, Syekh Muhammad Hasanain Makhluf menjabat sebagai kepala sekolah di madrasah yang berada di bawah naungan Al-Azhar itu.

Pada tanggal 2 Safar 1340 H (4 Oktober 1921 M), setelah mengajar di Masjid Al-Ahmadi selama lebih dari 12 tahun, beliau dipindah-tugaskan oleh Majlis Al-Azhar Al-A’la untuk mengajar di Ma’had Al-Azhar Al-Iskandariyyah. Hanya saja, belum sampai tiga bulan, beliau kembali dipindahkan untuk mengajar di Masjid Al-Azhar oleh majelis yang mempunyai otoritas tertinggi di Al-Azhar itu. Keputusan majelis itu diambil setelah menimbang kecerdasan beliau dalam mengajarkan ilmu dan kepiawaian beliau dalam menyampaikan metode pembelajaran. Di Masjid Al-Azhar, beliau dipilih untuk mengajar di Al-Qism Al-‘Ali dan At-Takhashshush. Sinergi pengajaran yang beliau abdikan membuahkan hasil. Beliau yang sebelumnya mendapatkan Syahadah Al-‘Alimiyyah derajat ketiga dinaikkan ke derajat kedua pada tanggal 3 Syakban 1340 H (1 April 1922 M).

Pengajar Pertama di Fakultas Syariah

Pasca Universitas Al-Azhar modern diresmikan, tepatnya pada tahun 1349 H (1930 M), Majlis Al-Azhar Al-A’la bermusyawarah untuk menentukan siapa yang berhak mengajar di sejumlah fakultas pionir di Universitas Al-Azhar. Setelahnya, terjadilah kesepakatan bahwasanya yang mengajar di Universitas Al-Azhar ialah orang yang pernah mengajar di Al-Qism Al-‘Ali dan At-Takhashshush di Masjid Al-Azhar. Otomatis, terpilihlah Syekh ‘Afifi Utsman di Fakultas Syariah bersama dengan 13 orang lainnya. Dan karena hal itu, beliau kembali dinaikkan dari derajat kedua menjadi derajat pertama, pada tanggal 23 Rajab 1354 H (21 Oktober 1935 M).

Al-Azhar

Sepilihan tulisan yang mengisahkan sejarah Al-Azhar dapat teman-teman temukan

di sini

Adapun orang-orang yang terpilih untuk mengajar di Fakultas Syariah ialah Syekh Muhammad Abdulfattah Al-‘Anani, Syekh Muhammad Arafah, Syekh Yusuf Al-Marshafi, Syekh Adbullah Abu An-Naja, Syekh Ali An-Najjar, Syekh Ali Idris, Syekh Husain Al-Bayyumi, Syekh Qandil Darwisy, Syekh Amin Surur, Syekh ‘Afifi Utsman, Syekh Muhammad As-Sayyid Abu Syusyah, Syekh Al-Husaini Sulthan, Syekh Musthafa Badr Zaid, dan Syekh Abdussalam Al-‘Askari.

Nama-nama tersebut di atas sesuai dengan urutan yang tertuang dalam Ketetapan Majlis Al-Azhar Al-A’la tertanggal 3 Rabiulawal 1350 H (18 Juli 1931 M). Dengan ketetapan ini, Syekh ‘Afifi Utsman mengajar selama 18 tahun, hingga kemudian beliau pensiun pada umur 70 tahun, yaitu pada tanggal 12 Rabiulawal 1368 H (10 Februari 1949 M). Pun demikian, beliau tetap menyempatkan diri mengajar di Fakultas Syariah hingga beliau sakit. Pada akhirnya, dokter memutuskan agar beliau segera beristirahat dari aktivitas mengajar pada tanggal 28 Safar 1372 H (16 November 1952 M).

Menjadi Anggota Jamaah Kibar

Pada tanggal 23 Rajab 1370 H (29 April 1951 M), Syekh ‘Afifi Utsman dilantik menjadi anggota Jamaah Kibar Ulama Al-Azhar bersama 4 orang lainnya, yaitu Syekh Muhammad Al-Khadhr Husain, Syekh Abdurrahman Taj, Syekh Muhammad Ath-Thanikhi, dan Syekh Muhammad bin Muhammad Asy-Syafi’i Azh-Zhawahiri. Dua bulan setelah pelantikan tersebut, beliau dianugerahi penghargaan negara kiswah tasyrif derajat pertama untuk ilmu pengetahuan dari Perdana Menteri Mesir, tepatnya pada tanggal 4 Ramadan 1370 H (9 Juni 1951 M).

Karya dan Andil untuk Tanah Air

Selain mengajar, Syekh ‘Afifi Utsman juga turut andil dalam memperkaya perpustakaan Arab dengan melahirkan beberapa karya, seperti kitab An-Nuskh wa At-Tanasukh, Durus At-Tarikh Al-Islami min Mabdai Al-Khilafah (ditulis bersama Syekh Abdurrauf Ismail), dan Risalah Al-Ahkam fi Nuskh Asy-Syarai’ wa Al-Ahkam. Hanya saja —sepengetahuan penulis— tidak ada satupun dari karangan beliau yang diterbitkan kembali atau dicetak ulang hingga saat ini.

Sebagaimana ulama Al-Azhar lainnya, Syekh ‘Afifi Utsman juga sosok ulama yang kecintaan pada tanah airnya tak diragukan. Beliau mempunyai andil besar dalam membantu kepentingan nasional. Beliau menyumbangkan separuh gaji beliau untuk Mesir pada tahun 1355 H (1937 M) selama 2 tahun. Sumbangsih berupa harta itu demi membela dan mendukung tanah air pada masa-masa tersebut.

Memaknai Kembali Takdir dan Kematian
Pembahasan seputar takdir seringkali dibatasi pada garis kesuksesan dan kegagalan, surga dan neraka. Sementara Nabi menekankan agar kita beramal.

Akhir Hayat

Setelah banyak berkhidmah kepada Al-Azhar tercinta, Syekh ‘Afifi Utsman kemudian menghembuskan nafas terakhir di desa kelahirannya, Syubra Qubalah pada hari Jumat, 10 Syakban 1372 H (24 April 1953 M) pada usia 74 tahun menurut hitungan Masehi dan 76 tahun menurut hitungan Hijriah. Jenazah sang guru besar itu dimakamkan di sana.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik BIOGRAFI atau tulisan menarik Amirul Mukminin

Latest