Khutbah Pertama
Hadirin sidang Jumat rahimakumullah...
Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman dan sehat wal afiat sehingga kita bisa berkumpul disini untuk melaksanakan ibadah salat Jumat.
Hadirin, sebentar lagi kita akan menghadapi pertengahan bulan Sya’ban, ada apa dengan pertengahan bulan Sya’ban?
Ada beberapa hari yang memiliki keutamaan dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Hal ini disampaikan oleh Habib Umar Al-Hafidz yaitu Nuzulul Qur'an: hari turunnya Al-Quran, malam pertama bulan rajab, pertengahan bulan Sya’ban atau nisfu Sya’ban, dan Lailatul Qadr: yaitu di antara malam-malam Ramadan yang memiliki kebaikan seperti ibadah seribu bulan. Saat-saat tersebut adalah saat mustajab, maka hendaklah kita manfaatkan untuk meningkatkan ketakwaan agar terhindar dari penyesalan.
Artinya: "Barangsiapa yang melalaikan ketakwaan dan mengabaikannya * maka dia akan terkena berbagai macam penyesalan di akhirat."
※ Sejarah dan Hikmah Nisfu Sya’ban
Malam Nishfu Sya’ban kita pahami juga sebagai malam ditutup dan dihantarkannya buku catatan amal perbuatan kita selama satu tahun. Entah catatan amal itu lebih banyak kebaikannya atau keburukannya, semua dilaporkan kepada Allah SWT tanpa ada yang tertinggal sedikitpun. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
Artinya: "Dari Aisyah RA, dari Nabi Muhammad SAW, beliau bertanya: Apakah kamu tahu ada apa dengan malam ini (Nishfu Sya'ban)?, Sayidah Aisyah kembali bertanya: Ada apa di dalamnya, wahai Rasulullah?, Maka Nabi menjawab: Di dalamnya ditulis semua anak yang dilahirkan dari keturunan Nabi Adam pada tahun ini. Pada malam itu ditulis semua orang yang celaka dari keturunan Nabi Adam pada tahun ini. Pada malam itu (juga) diangkat semua amal (perbuatan) mereka, dan pada malam itu diturunkan rezeki mereka." (HR Al-Baihaqi).
Catatan-catatan amal perbuatan kita dari mulai balig hingga wafat akan dikumpulkan dan disimpan untuk dihisab pada hari kiamat nanti. Orang yang timbangan amal kebaikannya lebih berat akan menerima buku catatan amal dengan tangan kanan dan dari arah depan, sedangkan orang yang timbangan amal keburukannya lebih berat akan menerima buku catatan amal dengan tangan kiri dan dari arah belakang. Maka saat berwudu, tepatnya ketika membasuh tangan kanan disunahkan untuk membaca doa:
Artinya: "Ya Allah, berikanlah kitab amalku kelak dari tangan kananku dan hisablah aku dengan hisab yang ringan."
※ Bagaimana Cara Rasulullah SAW Berdoa?
Dan ketika membasuh tangan kiri membaca doa:
Artinya: "Ya Allah, janganlah engkau berikan kitab amalku kelak dari tangan kiriku dan jangan pula dari belakang punggungku."
Berdasarkan berat timbangan amal inilah yang akan menentukan tempat kembalinya manusia, apakah pada kesenangan surga atau kepedihan neraka. Allah SWT berfirman:
Artinya: "Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, dia berada dalam kehidupan yang menyenangkan,Adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, tempat kembalinya adalah (neraka) Hawiyah, Tahukah kamu apakah (neraka Hawiyah) itu?, (Ia adalah) api yang sangat panas." (QS. Al-Qāri‘ah: 6-11)
Hadirin rahimakumullah..
Rasulallah SAW memerintahkan kita untuk memperbanyak membaca istighfar kepada Allah di malam Nishfu Sya’ban, karena malam tersebut adalah malam diterimanya taubat orang-orang yang bertaubat, dan diterimanya doa-doa orang yang meminta. Sebagaimana sabda Nabi SAW:
Artinya: "Sesungguhnya Allah SWT melihat (waktu) malam pertengahan bulan syaban, maka Ia akan mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang-orang yang musyrik atau orang-orang yang bermusuhan." (HR Ibn Majah)
Selain itu, ada juga amalan yang dianjurkan oleh para ulama untuk menggapai keutamaan malam Nishfu Sya’ban serta menjadi penutup catatan amal dengan kebaikan. Amalan ini sudah lazim kita temui setiap tahunnya. Amalan tersebut ialah membaca Surah Yasin sebanyak tiga kali disertai dengan niat dan doa. Bacaan Surah Yasin yang pertama diniatkan untuk meminta nikmat panjang umur dalam keadaan sehat dan taat kepada Allah SWT, bacaan yang kedua diniatkan untuk meminta nikmat rejeki yang halal dan melimpah, bacaan yang ketiga diniatkan untuk meminta ditetapkan nikmat iman dan Islam hingga akhir hayat. Ini adalah yang paling utama.
Atau bisa juga membaca doa berikut ini disetiap bacaannya:
Artinya: "Wahai Tuhanku yang Maha Pemberi, engkau tidak diberi. Wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan. Wahai Tuhan Pemberi Segala Kekayaan dan Segala Nikmat. Tiada tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan dan tempat aman orang-orang yang takut. Tuhanku, jika Engkau mencatatku di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezekiku. Catatlah aku disisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki dan taufiq untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berfirman pada kitab-Mu yang diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu. Tuhanku, dengan keagungan pada malam pertengahan bulan suci Sya’ban, di mana setiap perkara bijak diputuskan dan diselesaikan, hapuslah dariku musibah yang aku ketahui dan tidak ketahui, dan Engkau Dzat yang mengetahui segala sesuatu yang gaib."
Hadirin rahimakumullah...
Rasulallah SAW mengatakan banyak orang yang mengabaikan bulan Sya’ban karena berada di antara dua bulan mulia; bulan Rajab dan Ramadan. Banyak orang yang tidak menghiasi bulan Sya’ban dengan puasa (sunah), mungkin karena nanti akan puasa sebulan penuh di bulan Ramadan. Padahal Nabi SAW mengisi penuh bulan Sya’ban dengan puasa. Sabda Nabi SAW:
Artinya: "(Sya’ban) itu adalah bulan yang banyak manusia melalaikannya, antara rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan yang amalan-amalan dilaporkan kepada Tuhan semesta Alam. Maka aku suka amalanku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa." (HR Ahmad dan Nasai)
Sabda lainnya:
Artinya: "Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa sunah di satu bulan yang lebih banyak daripada bulan Sya’ban. Sungguh, beliau berpuasa penuh pada bulan Sya’ban." (HR Al-Bukhari)
Hadirin sidang Jum'at rahimakumullah...
Mari kita jadikan bulan Sya’ban ini sebagai bulan persiapan atau latihan menghadapi Ramadan yang diisi dengan kebaikan terhadap diri sendiri dan orang lain. Mempersiapkan bukan berarti tidak melakukan apa-apa, banyak amalan-amalan yang dicontohkan oleh Nabi SAW dalam mengisi bulan Sya’ban. Semoga kita semua menjadi umat yang diakui dan mendapat syafaat Nabi SAW di akhirat kelak. Aamiiin