Skip to content

Khutbah Jumat Keistimewaan dan Keutamaan Rajab

Rajab disebut demikian karena derasnya tetesan kebaikan pada bulan ini. Teks khutbah Jumat ini mengajak kita untuk mengenali bulan istimewa ini.

FOTO Masjid Raya Sultan Qabus, Muscat, Oman. (Unsplash/Mr Marox)
FOTO Masjid Raya Sultan Qabus, Muscat, Oman. (Unsplash/Mr Marox)

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلهِ وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْاِحْسَانِ، وَمُضَاعِفِ الْحَسَنَاتِ لِذَوِي الْاِيْمَانِ وَالْاِحْسَانِ اَلْغَنِيِّ الَّذِيْ لَمِ تَزَلْ سَحَائِبُ جُوْدِهِ تَسِحُّ الْخَيْرَاتِ كُلَّ وَقْتٍ وَأَوَانٍ، العَلِيْمِ الَّذِيْ لَايَخْفَى عَلَيْهِ خَوَاطِرُ الْجَنَانِ، اَلْحَيِّ الْقَيُّوْمِ الَّذِيْ لَاتَغِيْضُ نَفَقَاتُهُ بِمَرِّ الدُّهُوْرِ وَالْأَزْمَانِ، اَلْكَرِيْمِ الَّذِيْ تَأَذَّنَ بِالْمَزِيْدِ لِذَوِي الشُّكْرَانِ. أَحْمَدُهُ حُمْدًا يَفُوْقُ الْعَدَّ وَالْحِسْبَانَ، وَأَشْكُرُهُ شُكْرًا نَنَالُ بِهِ مِنْهُ مَوَاهِبَ الرِّضْوَانِ أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ دَائِمُ الْمُلْكِ وَالسُّلْطَانِ، وَمُبْرِزُ كُلِّ مَنْ سِوَاهُ مِنَ الْعَدَمِ اِلَى الْوِجْدَانِ، عَالِمِ الظَّاهِرِ وَمَا انْطَوَى عَلَيْهِ الْجَنَانُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخِيْرَتُهُ مِنْ نَوْعِ الْاِنْسَانِ، نَبِيٌّ رَفَعَ اللهُ بِهِ الْحَقَّ حَتَّى اتَّضَحَ وَاسْتَبَانَ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْجُوْدِ وَالْوَفَاءِ وَالْاِحْسَانِ. أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا الْاِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…

Di hari Jumat di bulan Rajab mulia yang penuh berkah ini, marilah kita semua senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT, Dzat Pencipta segala sesuatu, yang Mahakuasa atas segala sesuatu dan yang telah memberi kita nikmat yang teramat sangat banyak. Sebagai hamba, kita diwajibkan Allah SWT untuk senantiasa mensyukuri nikmat-nikmat-Nya itu. Bagaimana caranya, yaitu dengan tidak menggunakan nikmat-nikmat yang telah kita peroleh tersebut untuk berbuat maksiat kepada-Nya. Sebaliknya, berbagai nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita semua itu harus diproyeksikan menjadi sarana melaksanakan perintah-perintah-Nya.

Selawat beserta salam, marilah juga kita senantiasa haturkan bersama kepada junjungan kita Nabi agung Muhammad SAW, kepada para keluarga juga kepada para sahabatnya. Semoga dari ucapan salam, selawat dan doa-doa kebajikan itu lantas melimpah ruah meluber kepada kita semua selaku umatnya, serta menjadi wasilah kita kelak mendapat syafaatnya. Amin.

Selanjutnya, dalam kesempatan yang mulia ini, saya selaku khatib ingin berwasiat kepada diri saya sendiri, kepada keluarga, juga kepada semua jamaah yang hadir pada salat Jumat kali ini, yaitu untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan cara mengerjakan semua kewajiban-kewajiban dan meninggalkan semua larangan-Nya, meningkatkan ibadah, menguatkan keimanan, dan memantapkan keyakinan kepada-Nya. Sebab, tidak ada bekal yang lebih baik untuk kita bawa menuju akhirat selain ketakwaan.

Ma’asyiral Muslimin Hafizhakumullah…

Dalam kitab I’anah Ath-Thalibin dijelaskan bahwa “Rajab” merupakan derivasi dari kata “tarjib” (الترجيب) yang berarti mengagungkan atau memuliakan. Syahdan, masyarakat Arab pada zaman dahulu memuliakan Rajab melebihi bulan-bulan lainnya. Rajab juga disebut juga “Al-Ashabb” (الأصب) yang berarti “yang mengucur” atau “menetes”. Rajab disebut demikian karena derasnya tetesan kebaikan pada bulan ini. Oleh karena itulah bulan Rajab merupakan bulan yang istimewa.

Selain itu, Rajab diistilahkan juga dengan “Al-Ashamm” (الأصم) atau “yang tuli”, karena pada bulan Rajab ini tidak terdengar bunyi senjata pasukan yang berperang. Julukan lain untuk bulan Rajab adalah “Rajam” (الرجم) yang berarti “melempar”. Rajab dinamai demikian karena musuh dan setan-setan pada bulan ini dikutuk dan dilempari, sehingga mereka tidak jadi menyakiti para wali dan orang-orang saleh. Bahkan karena saking istimewanya, Allah memasukkan bulan Rajab sebagai salah satu bulan haram (Asyhurul hurum) alias bulan yang dimuliakan.

﴿ إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ﴾ [سورة التوبة: ٣٦]

Artinya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah ada dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya terdapat empat bulan haram.” (Surah At-Taubah: 36)

Yang dimaksud dari empat bulan haram; bulan yang dimuliakan itu ialah empat bulan mulia di luar Ramadan, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharam, dan Rajab.

Adapun cara mengutamakan, memuliakan dan mengagungkan bulan Rajab serta bulan-bulan haram lainnya adalah dengan mengistimewakan apa-apa yang diagungkan oleh Allah; sebagai salah satu bukti ketakwaan dalam diri umat Islam. Hal ini sebagaimana tertulis dalam Al-Quran:

﴿ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ ﴾ [سورة الحج: ٣٢]

Artinya: “Dan barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (Surah Al-Hajj: 32)

Lebih lanjut, Syekh Muhammad Mutawali Asy-Sya’rawi dalam kitab Tafsir Asy-Sya’rawi, halaman 608, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan syiar Allah pada ayat di atas adalah semua tanda-tanda kebesaran Allah yang diciptakan untuk hamba-Nya agar bisa mendapatkan pahala ketika memuliakannya. Oleh karenanya, Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk selalu mengagungkan pula apa yang diagungkan oleh Allah SWT. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadits nabi, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

فَعَظِّمُوْا مَا عَظَّمَ اللهُ، فَإِنَّمَا تُعَظَّمُ الْأُمُوْرُ بِمَا عَظَّمَهَا اللهُ بِهِ

Artinya: “Maka muliakanlah sesuatu yang dimuliakan oleh Allah. Karena sungguh, keagungan sesuatu ketika diagungkan oleh Allah kepadanya.” (HR Qatadah)

Tafsir

Kumpulan tulisan bertema tafsir Al-Quran dapat teman-teman baca

di sini

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…

Pada bulan Rajab, terdapat beberapa peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah umat Islam. Momen peristiwa Isra Mikraj pada 27 Rajab adalah puncaknya sekaligus menjadi salah satu mukjizat terbesar yang Allah anugerahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Isra dan Mikraj adalah perjalanan spiritual bersejarah Nabi Muhammad SAW yang menjadi momen penting dalam penetapan ibadah shalat dari Allah SWT. Perjalanan ini mencakup perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem, dilanjutkan dengan perjalanan ke langit menuju Sidratil Muntaha, semuanya ditempuh dalam satu malam.

Maksud dan tujuan Isra dan Mikraj adalah memuliakan Rasulullah, memperlihatkan kepadanya beberapa keajaiban dan tanda kekuasaan Allah dan menerima perintah shalat di tempat yang sangat mulia dan tidak pernah satu kali pun dilakukan maksiat di dalamnya. bukan berarti Allah di atas lalu Rasulullah diperintah untuk naik ke atas untuk sowan bertemu dan menghadap Allah, sebab Allah SWT Maha Suci dari tempat dan arah.

Ma’asyiral Muslimin Hafizhakumullah…

Rajab adalah bulan yang penuh dengan keutamaan, keistimewaan dan berkah, di mana setiap amal kebaikan yang dilakukan di dalamnya dilipatgandakan pahalanya. Bulan ini memberikan kesempatan bagi kita semua untuk meningkatkan ibadah dan amal kebaikan, seperti puasa, sedekah, menjalin silaturahmi, memberi makan orang yang lapar, menjenguk orang sakit, dan banyak lagi.

Semua itu karena bulan Rajab adalah bulan yang dimuliakan dalam Islam, penuh dengan keutamaan yang membawa berkah bagi setiap amal kebaikan yang kita kerjakan di dalamnya. Bahkan, ibadah yang dilakukan pada bulan ini tidak hanya membawa nilai lebih di sisi Allah, tetapi juga dijanjikan pahala yang jauh melampaui ibadah pada bulan-bulan lainnya. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah ketika sedang berkhutbah pada bulan Rajab dan dicatat dalam Mausu’ah Al-Haditsiyah lil Hafiz Ibni Hajar Al-Asqalani, yaitu:

أَيُّهَا النَّاسُ! إِنَّهُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ، شَهْرُ رَجَبَ، شَهْرُ الله تُضَاعَفُ فِيْهِ الْحَسَنَاتُ وَتُسْتَجَابُ فِيْهِ الدَّعَوَاتُ وَيُفَرَّجُ عَنْ الْكُرْبَاتِ، لَا يُرَدُّ فِيْهِ لِلْمُؤْمِنِيْنَ دَعْوَةٌ، فَمَنْ اِكْتَسَبَ فِيْهِ خَيْراً ضُوْعِفَ لَهُ فِيْهِ أَضْعَافاً مُضَاعَفَةً، وَاللهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ

Artinya: “Wahai manusia! Sungguh telah menaungi kepada kalian semua, bulan yang agung, yaitu bulan Rajab yang merupakan bulan Allah, setiap kebaikan akan dilipatgandakan di dalamnya dan doa-doa akan diterima, kegelisahan akan dihilangkan, doa-doa orang beriman tidak ditolak. Siapa saja yang melakukan kebaikan di dalamnya, maka akan dilipatgandakan menjadi berlipat-ganda, dan Allah bisa melipatgandakan (pahala) bagi siapa saja yang Dia kehendaki.” (HR Anas bin Malik)

Pada bulan Rajab ini, kita disunahkan untuk memperbanyak puasa bulan Rajab, seperti halnya kita juga disunahkan untuk memperbanyak puasa di tiga bulan haram yang lain, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharam. Para ulama mengatakan bahwa dalil-dalil umum mengenai anjuran berpuasa setahun penuh kecuali lima hari yang diharamkan, cukup dijadikan dalil atas kesunahan puasa Rajab. Kesunahan puasa Rajab juga dapat diambil dari dalil-dalil umum mengenai dianjurkannya berpuasa pada empat bulan haram. Disebutkan dalam Shahih Muslim, hadits no. 1960:

عن عُثْمَانَ بْنِ حَكِيمٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رَجَبٍ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِي رَجَبٍ فَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ

Artinya: “Dari Utsman bin Hakim Al-Anshari bahwa ia berkata: Saya bertanya kepada sahabat Sa’id bin Jubair mengenai puasa Rajab, dan saat itu kami berada di bulan Rajab. Maka ia pun menjawab: Saya telah mendengar Ibnu Abbas RA berkata: Dulu Rasulullah SAW pernah berpuasa hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan berbuka. Dan beliau juga pernah berbuka hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan puasa.”

Oleh karenanya, mumpung bulan Rajab masih memberikan kesempatan bagi kita semua untuk melipatgandakan amal dan berbuat kebaikan dalam berbagai bentuknya, mari kita lebih optimalkan lagi ibadah-ibadah kita. Entah itu berpuasa, bersedekah, menjalin silaturahmi, memberi makan orang yang kelaparan, menjenguk mereka yang sakit, menyantuni anak yatim ataupun amal-amal kebaikan lainnya. Semoga kita senantiasa diberi kekuatan, kemudahan dan kemampuan untuk memperbanyak amaliah ibadah dan amal kebaikan lainnya. Amin.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الصَّمَدِ. اَلَّذِى لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أحَدٌ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ الْمُمَجَّدِ. وَعَلَى آلِهِ وَأصْحَابِهِ الَّذِيْنَ شَيَّدُوْا الدَّيْنَ بِعَزْمٍ قَوِيٍّ وَعَزِيْزِ الْمَدَدِ، أمَّا بَعْدُ: فَيَاأيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنفْسِى بِتَقْوَى اللَّهِ بِفِعْلِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَتَرْكِ الْمَنْهِيَّاتِ. قَدْ أشْبَعَ لَكُمْ أنْوَاعُ الْخُطَبِ الْجُمْعِيَّةِ وَكَأَنِّى أنْظُرُ فِى أسْمَائِكُمْ بِهَا مَلْآن. وَلَكِنْ مَا أرَى مِنْكُمْ اِلّأ عَلَى جُمُوْدٍ عَرِيْقِ. قَلَّمَا تُغَيِّرُ أعْمَالَكُمْ تِلْكَ الْخُطَبُ اِلَى تَرْقِيَةِ الْأعْمَالِ وصَلَاحِ الْجَنَانِ. وَمَا اُمَثِّلُكُمْ اِلَّا كَالْحَدِيْدِ الْبَارِدْ. يُضْرَبُ كُلَّ وَقْتٍ لِيَمْتَدَّ فَلَمْ يَمْتَدِدْ. فّتَبَصَّرُوْا وَاَفِيْقُوْا ثُمَّ أحْسِنُوْا، اِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. إنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ, وَقَاضِى الْحَاجَاتِ. . اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِاُمَةِ مُحَمَّدٍ. وَارْحَمْ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ. وَأَصْلِحْ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ. واسْتُرْ لِاُمَةِ مُحَمَّدٍ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْهُمْ عَلَى أَعْدَائِهِمْ وَوَفِّقْهُمْ لِعَمَلٍ صَالِحٍ يَنفَعُهُمْ فِى دُنْيَاهُمْ وَأُخْرَاهُمْ. اَللّٰهُمََّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَعُلَمَائَنَا وَزُعَمَائَنَا وَاجْعَلْ هِمَّتَهُمْ فِى اِزَالَةِ الْمُنْكَرَاتِ وَالْمَعَاصِى وَاهْدِهِمْ سَبِيْلَ الرَّشَادِ. اللَّهُمَّ ارْفَعْ وَادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْن وّقَرَنَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ والْعَافِيَةَ وَالْمُعَافَاةَ الدَّائِمَةَ فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيأ حَسَنَةً, وَفِى ألآخِرَةِ حَسَنَةً, وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعّالّمِيْنَ
عِبَادَ اللَّهِ. إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَاسْئَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُؤْتِكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

💡
Baca juga beragam teks khutbah Jumat di KHUTBAH atau tulisan menarik Ahmad Muhakam Zein

Latest