Skip to content

Khutbah Jumat Menghayati Hakikat Manusia Sebagai Perekat Persaudaraan

Prinsip mendasar seorang hamba ada pada keimanannya kepada Allah. Teks khutbah ini menegaskan ajaran Islam yang mengusung persatuan kemanusiaan.

FOTO Masjid Raya Sheikh Zayed di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. (Unsplash/Farhan Khan)
FOTO Masjid Raya Sheikh Zayed di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. (Unsplash/Farhan Khan)

Khutbah Pertama

الحَمْدُ لِلَّهِ ثم الحمدُ للّهِ الحمدُ للّهِ خَلَقَ الخَلْقَ، وأبْدَعَ الكائناتِ، الحَمْد للَّهِ عَلَّمَ القرآنَ، خَلَقَ الإنسانَ علَّمَهُ البَيَانَ، الحمد لِلَْهِ باعِثِ الرُّسُلِ بِالآيَاتِ والبراهينَ، وأشهد أن لَا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرّيْكَ لَهُ، وأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمّدًا عبدُهُ ورسولُهُ .خيرُ مُعلِّمِ وإمَامٍ بَعَثَهُ اللّهُ-سبحانه وتعالى- بالعلمِ النافِعِ والعَمِلِ الصَّالِحِ؛ لِيُخرِجَ النَّاسَ مِنَ الظّلُمَاتِ إلى النُّورِ صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عليه وعلى آلِه وأصْحَابِهِ الغُرِّ المَيَامِيْنَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْنِِ أما بعدُ
عِبَادَاللَّهِ....أُوْصِيكُم ونَفسي المقَصِّرَةِ بتَقْوَى اللّهِ -عز وجل- بفِعْلِ أوامِرِهِ واجتِنابِ نَوَاهِيهِ، قال الله -سبحانه وتعالى- فِي كتابِِهِ العَزِيْزِِ:(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا*يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّـهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا).
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾

Hadirin sidang Jumat hafizhakumullah…

Dalam khutbah kali ini, khatib ingin mengingatkan prinsip dasar seorang hamba agar menjadi hamba yang diridai Allah dan Rasul-Nya yaitu dengan meyakini bahwa Allah SWT adalah Sang Pencipta yang wajib disembah. Dia tidak memandang manusia dari fisiknya, warna kulit, pakaian, jabatan, ketokohan dan kesukuan, melainkan yang dipandang oleh-Nya adalah ketakwaan. Sedangkan tingkat ketakwaan seseorang tidak ada yang tahu kecuali Allah semata. Maka benar apa yang dikatakan Baginda Nabi Muhammad SAW ketika Haji Wada':

أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى (رواه أحمد)

Artinya: “Wahai sekalian umat manusia, ketahuilah sesungguhnya Tuhanmu satu (esa). Nenek moyangmu juga satu. Ketahuilah, tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa selain Arab (Ajam), dan tidak ada kelebihan bangsa lain (Ajam) terhadap bangsa Arab. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit merah (putih) terhadap yang berkulit hitam, tidak ada kelebihan yang berkulit hitam dengan yang berkulit merah (putih), kecuali dengan taqwanya”. (HR. Ahmad, 22978)

Hadirin yang dirahmati Allah SWT...

Kita sebagai umat manusia harus menyadari bahwa seluruh umat manusia bermula dari keturunan Adam. Al-Quran telah menegaskan dalam ayat berikut ini:

﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ﴾ [سورة النساء: ١]

Artinya: "Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan yang telah menciptakan kalian dari satu nafs (jiwa). Dari satu nafs itu Dia menciptakan pasangannya, dan dari sepasang nafs tersebut Dia kemudian memperkembangbiakkan banyak laki-laki dan perempuan. Sesungguhnya dari nafs yang satu itulah kalian berasal. Takutlah kepada Allah, tempat kalian memohon segala yang kalian butuhkan dan yang nama-Nya kalian sebut dalam setiap urusan. Peliharalah tali silaturahmi dan janganlah kamu putuskan hubungan silaturahmi itu, baik yang dekat maupun yang jauh. Sesungguhnya Allah selalu mengawasi diri kalian. Tidak ada satu pun urusan kalian yang tersembunyi dari-Nya. Allah akan membalas itu semua." (Surah An-Nisa: 1)

Ayat Al-Quran di atas menegaskan bahwa sejatinya umat manusia adalah saudara karena berasal dari keturunan Nabi Adam AS. Dengan demikian, manusia tidak bisa dipisahkan keterikatannya satu sama lain. Walaupun manusia berbeda suku, keyakinan, adat istiadat, warna kulit dan juga bahasa tapi sejatinya kita adalah saudara sesama umat manusia. Maka, sudah sepantasnya sebagai saudara harus mempunyai rasa solidaritas yang tinggi dan tanggung jawab bersama, hidup berdampingan dengan damai (koeksistensi).

Sangatlah penting untuk menumbuhkan kesadaran dalam hati dan pikiran bahwa kita adalah keturunan Adam. Sebab jika sudah menjadi kesadaran, akan menghidupkan hati nurani dan peka terhadap krisis sosial masyarakat, juga mempunyai rasa empati bagi saudara kita yang dilanda musibah. tingkah lakunya akan berusaha menciptakan kehidupan yang penuh kedamaian, tidak akan ada lagi rasa acuh dan ketidakpekaan kepada kesulitan saudaranya, serta tidak mau melakukan hal yang dapat melukai siapapun karena tertanam dalam hati bahwa melukai saudaranya sama dengan melukai dirinya. Dengan tumbuhnya kesadaran asal muasal manusia ini, maka akan terwujud rasa keinginan berbuat baik kepada siapapun tanpa melihat ras, etnis, dan kepercayaan mereka. Dalam hadis dikatakan:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ (رَوَاهُ اْلبُخَارِيّ وَمُسْلِمٌ)

Artinya: ”Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman (dengan keimanan yang sempurna) sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah

Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan

di sini

Hadirin yang dirahmati Allah…

Allah menciptakan manusia bersuku-suku, berbangsa-bangsa, beragam-ragam agar manusia saling mengenal, menciptakan kedamaian, dan berlomba-lomba dalam menciptakan kebaikan di muka bumi ini. Pantas saja jika manusia disebut sebagai Khalifah Tuhan di Bumi. Namun, manusia akan benar-benar menjadi khalifah di muka bumi, menghidupkan bumi, menciptakan peradaban, jika manusia menggunakan senjata berupa ilmu pengetahuan. Karena Adam sebagai bapak manusia telah dibekali oleh Allah sebelum diturunkan ke bumi dengan ilmu pengetahuan dan diberi pemahaman semua jenis nama-nama. Begitu juga syarat manusia bisa menjadi khalifah di bumi, sebagai pengganti Tuhan yaitu dengan mengamalkan akhlak-akhlak Allah SWT. Artinya, jika Allah SWT mewajibkan kepada diri-Nya sifat Rahmah atau kasih sayang, maka manusia harus berupaya menuangkan rasa Rahmah itu dalam tingkah laku kehidupan sehari-hari manusia.

Dalam Al-Quran Allah SWT berfirman:

﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ﴾ [سورة الحجرات: ١٣]

Artinya: "Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dalam keadaan sama, dari satu asal: Adam dan Hawâ’. Lalu kalian Kami jadikan, dengan keturunan, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kalian saling mengenal dan saling menolong. Sesungguhnya orang yang paling mulia derajatnya di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Allah sungguh Maha Mengetahui segala sesuatu dan Maha Mengenal, yang tiada suatu rahasia pun tersembunyi bagi-Nya." (Surah Al-Hujurat: 13)

Hadirin sidang Jumat yang mulia…

Semua agama mengajarkan kedamaian, persahabatan dan persaudaraan. Bahkan semua agama mengajarkan untuk melakukan amal shaleh dan tak ada agama yang mengajarkan untuk melakukan kerusakan di alam semesta ini. Adanya terorisme, intoleran, radikalisme adalah bukan dari hasil agama-agama melainkan dari kesalahpahaman atas penafsiran teks-teks keagamaan.

Maka dari itu, Imam Akbar Syekh Ahmad Ath-Thayyib, Pemimpin tertinggi Al-Azhar dan Paus Fransiskus, Pemimpin Gereja Katolik pada 4 Februari 2019 di Abu Dhabi menandatangani Piagam Persaudaraan Manusia yang menjadi tonggak sejarah kemanusiaan meneruskan piagam-piagam yang telah ada, seperti Piagam Madinah Nabi Muhammad SAW. Piagam ini adalah piagam untuk mendamaikan dan menyelamatkan manusia dari ancaman konflik agama dan konflik semesta.

Hadirin, piagam yang ditandatangani oleh pimpinan tertinggi Al-Azhar dan pimpinan tertinggi Gereja Katolik lahir dari kesadaran mendalam para agamawan melihat hilangnya hati nurani dunia atas kekerasan, kelaparan, ketidakpekaan atas penderitaan manusia, hilangnya keadilan, dan merebaknya kezaliman atas nama agama dan lain-lain.

Hasil dari pertemuan dari diskusi-diskusi itu menghasilkan piagam kesepakatan yang jelas berpihak kepada umat manusia dan mengangkat kemuliaan manusia. Hal tersebut adalah wujud kecintaan para agamawan terhadap nilai-nilai agama yang harus diperjuangkan untuk menyelesaikan kemelut konflik dan permasalahan dunia masa kini. Maka, tanggal 4 Februari kemudian diperingati sebagai Hari Persaudaraan Kemanusiaan Internasional.

Khatib teringat ada seorang agamawan asal Jerman pernah mengatakan:

لَنْ يَكُوْنَ هُنَاكَ سَلَامٌ فِي العَالَمِ دُوْنَ أَنْ يَكُوْنَ سَلَامٌ بَيْنَ الأَدْيَانِ، وَلَنْ يَكُوْنَ هُنَاكَ سَلَامٌ بَيْنَ الأَدْيَانِ دُوْنَ أَنْ يَكُوْنَ حِوَارٌ بَيْنَ الْأَدْيَانِ

Artinya: "Tidak akan ada di sana kedamaian di alam semesta tanpa adanya kedamaian di antara agama. Dan tidak akan ada di sana kedamaian antara agama-agama tanpa adanya diskusi diantara agama-agama"

Dan benar saja Syekhul-Azhar bersama para anggota Majlis Hukama Al-Muslimin telah membuktikan bahwa diskusi dengan para tokoh agamawan dari agama lain ini menemukan titik temu yaitu agama Islam dan agama non Islam mempunyai peranan yang sama dalam menyelamatkan manusia dari konflik dan kemelut dunia. Hal tersebut menghasilkan Piagam Persaudaraan Manusia yang bersejarah itu.

Mari kita berharap semoga Allah SWT menjadikan kita semua menjadi orang yang selalu mawas diri agar hidup kita menjadi manusia yang memberi kemanfaatan bagi orang banyak, yang terus berusaha memanusiakan manusia. Amin ya Rabbal alamin.

بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْانِ العَظٓيم ونَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِالأيَاتِ والذِّكرِ الحَكِيم وتَقَبَّلْ مِنِّي ومِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيم

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للّٰهِ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ لَهُ اَلْوَاقِفِيْنَ عَلَى بَابِهِ حَتَّى يَرْضَى وَيَفْتَحَ عَلَيْنَا فُتُوْحَ الْعَارِفِيْنَ بِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَنَبِيُّهُ وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ بَلَغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ لِلْأُمَّةِ وَجاهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ حَتَّى أَتَاهُ الْيَقِيْنَ، فَصَلَّى اللّٰهُ عَلَيْكَ وَسَلَّمَ يَا سَيِّدِيْ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ!
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ … اِتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهَوا عَمَّا نهى وَاعْلَمُوْا أنَّ اللّٰهَ أمَرَكُمْ بِأمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَى بِمَلَائِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى أنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيّ يَا أيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً، وَسَائِرَ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
نَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ بِحُرْمَةِ بَابِكَ كُلِّهِ أَنْ تُنَزِّلَ النَّعِيْمَ وَالْخُلْدَ عَلَى أَرْوَاحِ الشُّهَدَاءِ وَضَحَايَا الْإِرْهَابِيِّ فِيْ مَشَارِقِ الْأَرْضِ وَمَغَارِبِهَا وَأَنْ تُنَزِّلَ الْعَافِيَةَ وَالشِّفَاءَ عَلَى الْجُرْحَى وَالْمُصَابِيْنَ وَأَنْ تُنَزِّلَ الْأَمَانَ وَالْعَافِيَةَ عَلَى بِلَادِنَا وَأَوْطَانِنَا كُلِّهَا وَعَلَى بِلَادِ الْعَالَمِيْنَ، وَنَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ لِأَهْلِ أَرْضِ إِنْدُوْنِيْسِيَا عَلَى وَجْهِ الْخُصُوْصِ أَنْ تَحْفِظَهُمْ، اَللَّهُمَّ احْفَظْ إِنْدُوْنِيْسِيَا وَشَعْبَهَا الْعَظِيْمَ وَاحْفَظْ عُقُوْلَهُمْ وَزَكِّ نُفُوْسَهُمْ وَوَسِّعْ أَرْزَاقَهُمْ وَجَمِّلْ أَخْلَاقَهُمْ وَابْسُطْ بَيْنَهُمْ بِسَاطَ الرَّخَاءِ وَالْعَافِيَةِ وَالْوَفْرَةِ وَالسَّعَةِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.

💡
Baca juga khutbah lain di rubrik KHUTBAH atau tulisan menarik Irfan Rifqi Fauzi

Latest