Khutbah I
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Segala puja dan puji sukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan banyak sekali nikmat kepada kita semua sehingga kita di momen menjelang perayaan HUT RI ini masih bisa melaksakan ibadah shalat Jumat dengan bebas, aman dan khusyuk. Tentunya semua ini berkah dari nikmat berupa kesehatan, keimanan, kemanan dan ketakwaan yang harus senantiasa kita syukuri. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW, sang pembawa risalah dan syafaat yang telah membimbing umat manusia dari zaman jahiliyah menuju zaman milenial dengan peradaban yang serba maju dan modern ini.
Sebagaimana kita tahu, kemerdekaan adalah salah satu nikmat besar dari Allah SWT yang telah dianugerahkan kepada kita bangsa Indonesia. Nikmat ini adalah suatu anugerah yang sudah sepatutnya kita syukuri. Cara pertama untuk mensyukurinya adalah dengan selalu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan selalu menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, serta selalu berpegang teguh mengikuti sunnah-sunnah nabi-Nya. Selanjutnya adalah dengan cara memperkuat kerukunan dan kerja sama antar-warga agar persatuan bangsa semakin terjalin. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 10:
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat."
Ma'asyiral Mukminin Rahimakumullah…
Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman suku, ras, budaya serta agama yang beragam. Namun, dengan adanya keragaman dan banyaknya perbedaan, itu tidak boleh menjadi alasan bagi masyarakat untuk saling berserteru dan berkonflik. Justru dengan adanya keanekaragaman tersebut, Allah menciptakan hikmah agar kita bisa saling mengenal satu sama lain dengan baik. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 13:
Artinya, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti”. (QS. Al-Hujurat:13)
Hikmah dari ayat di atas secara jelas Allah SWT menegaskan bahwa keragaman merupakan keniscayaan yang telah ditetapkan oleh Allah. Penciptaan keragaman tersebut bertujuan agar umat manusia saling mengenal satu sama lain tanpa membeda-bedakan golongan. Syekh Nawawi Al-Bantani dalam tafsirnya Marah Labid juz 2 hal 440 kemudian menjelaskan bahwa arti dari “agar kalian saling mengenal” pada ayat di atas ialah agar umat manusia saling mengenal satu sama lain sebagai manusia tanpa memedulikan dan membangga-banggakan etnis, suku atau golongannya masing-masing.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara yang majemuk ini, ukhuwah adalah pilar utama dalam membangun peradaban yang damai dan sejahtera. Adanya fakta perbedaan suku, agama, budaya, atau perbedaan pandangan politik tidak boleh merusak nilai ukhuwah yang dijunjung tinggi oleh Islam. Sebab Rasulullah SAW telah bersabda dalam haditsnya:
Artinya: "Seorang mukmin bagi mukmin yang lain seperti bangunan yang saling menguatkan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Secara lebih jauh, Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim-nya menjelaskan bahwa hadits di atas ini menggambarkan keharusan adanya saling tolong-menolong dan kerja kolektif dalam kehidupan umat. Seperti halnya bangunan, jika satu bagiannya lemah, maka struktur bangunannya bisa roboh. Di sinilah pentingnya kita menjaga kerukunan antarumat beragama, semangat gotong-royong dan memupuk terus semangat persatuan kita, jangan sampai adanya perbedaan berubah menjadi perpecahan bangsa.
Dalam kitab Bughyah Al-Mustarsyidin, Syekh Abdurrahman menyatakan:
Artinya: "Wajib menjauhi segala hal yang membawa pada pertengkaran dan perpecahan." Karena pertengkaran itu membuka pintu fitnah, merusak amal, dan mengundang kehancuran bangsa. KH Hasyim Asy’ari dalam Risalah Ahlus Sunnah wa al-Jama‘ah juga menekankan pentingnya ukhuwah diniyah dan wathaniyah, persaudaraan keagamaan dan kebangsaan, yang harus dijaga demi kekuatan umat.
Ma'asyiral Mukminin Rahimakumullah…
Pada momen perayaan kemerdekaan Indonesia yang ke-80 ini, marilah kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi dengan terus menjaga tali persaudaraan antar sesama, saling tolong menolong tanpa memandang suku, ras, etnis maupun agama. Sebab tolong menolong dan bekerjasama yang hakiki yaitu bukan menyamakan semua hal, tapi mempersatukan kekuatan yang berbeda-beda untuk kebaikan bersama. Ini sebagaimana dawuh Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumiddin Juz II halaman 224, di sana beliau berkata:
Artinya: "Urusan dunia tidak akan tegak kecuali dengan kerjasama, saling mendukung, dan meninggalkan pertengkaran.”
Marilah kita isi peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tidak sebatas euforia seremonial lomba atau nostalgia sejarah semata, tetapi tentang bagaimana kita mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang bermanfaat. Sebab kemerdekaan tidak akan bermakna jika kita masih terus berselisih dan terpecah belah. Tidak akan ada kemajuan jika bangsa ini retak karena ego pribadi dan kepentingan kelompok. Marilah kita bersatu dalam bingkai "Bhinneka Tunggal Ika", rukun dalam perbedaan, dan bekerja sama demi masa depan anak cucu kita. Mari kita mempersatukan hati kita dalam kebaikan dan memberikan segenap jiwa raga kita untuk terus membangun bangsa ini dengan nilai-nilai kerukunan, semangat kebersamaan dan terus membina persatuan dan kesatuan kita.
※ Pemilu dan Persaudaraan Sebangsa
Khutbah II
