Khutbah Pertama
Hadirin sidang Jumat hafizhakumullah..
Alhamdulillah kita masih diberi umur, kekuatan, dan kesehatan oleh Allah SWT untuk melaksanakan ibadah salat Jumat.
Hadirin...
Kehidupan kita di dunia ini hanyalah sementara, dunia hanyalah tempat lewat saja dan akhiratlah yang akan kita tempati selamanya. Apakah di akhirat nanti kita termasuk ahli surga atau neraka? Jawabannya tergantung bagaimana kita memanfaatkan dunia yang sementara ini. Karena kehidupan di dunia ini, walau sebentar, akan menentukan nasib kita di kehidupan abadi nanti. Jika bekal yang dikumpulkan dan dibawa adalah keimanan kepada Allah, mengerjakan amal saleh, maka besar harapan untuk mendapatkan surga. Tapi kalau sebaliknya, artinya selama di dunia tingkah perbuatannya lebih cenderung pada melakukan dosa dan maksiat kepada Allah, maka apa yang akan kita berikan untuk menebus surga?
Memang, sebagian besar ulama sepakat bahwa manusia masuk ke dalam surga adalah atas rida dan rahmat Allah SWT. Tapi, apakah orang yang selama hidupnya hanya melakukan dosa dan maksiat yang justru itu adalah hal yang dilarang oleh Allah akan mendapatkan rida Allah?
※ Menghapus Label Sumber Dosa pada Perempuan
Maka perlu sekali kita mengisi penuh daya keimanan kita, menghisab atau memikirkan kembali apa yang telah kita lakukan selama sehari semalam dari mulai bangun pagi hingga hendak tidur agar kita terus berusaha untuk berbuat kebaikan dan berusaha menjauh dari perbuatan yang akan membuat sengsara di kemudian hari.
Allah SWT berfirman:
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan". (Surah Al-Ḥasyr: 18)
Sayyidina Umar bin Al-Khattab mengatakan:
Artinya: "Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab"
Hadirin kaum muslimin...
Sudah saatnya kita muhasabah diri karena kita tidak tahu sampai kapan ruh ini akan ada dalam raga. Sudah saatnya kita merenung memikirkan segala tingkah perbuatan kita untuk terus memperbaiki niat dan perilaku kita di setiap waktu. Sehingga dalam sehari-harinya hanya dipenuhi dengan melakukan amal perbuatan baik yang membuat keimanan kita bertambah. Karena iman itu fluktuatif, artinya iman kita kadang naik kadang juga turun. Iman itu akan bertambah dengan amal kebaikan dan berkurang dengan amal keburukan. Bukan berarti dengan melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah akan membuat keyakinan kepada Allah dan Rasul-Nya itu hilang, tapi derajat keimanannyalah yang menjadi lemah dan rendah. Oleh karena itu, hendaknya seorang yang beriman kepada Allah melakukan amal kebaikan dengan istikamah. Walaupun amalnya sedikit, namun apabila dilakukan secara istikamah dibarengi rasa keimanan kepada Allah SWT insyaallah bisa menjadi amal penolong yang bernilai di sisi Allah. Rasulallah SAW bersabda:
Artinya: “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling konsisten meskipun sedikit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
※ Sepercik Tata Krama Para Ulama Nahwu
Dalil lain, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian tetap istikamah, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih". (Surah Al-Aḥqāf: 13)
Maknanya, orang beriman yang terus konsisten dengan keimanannya dan penuh ketakwaan kepada Allah seperti melakukan amal kebaikan secara konsisten, menjauhi larangan Allah secara konsisten, maka orang tersebut tidak akan memiliki rasa takut dan khawatir di hari kiamat.
Hadirin rahimakumullah...
Sesungguhnya surga itu dikelilingi oleh sesuatu yang tidak kita sukai. Contoh saat sedang lelap tidur, ada perintah Allah untuk salat Subuh, rasanya berat sekali untuk bangun. Namun apabila kita berusaha melawan nafsu dan istikamah melakukan ibadah salat subuh itu, maka sama saja dengan berusaha untuk mendapatkan surganya Allah. Sebaliknya, neraka dikelilingi oleh hal-hal yang disukai nafsu dan syahwat. Rasulallah SAW bersabda:
Artinya: “Surga itu dilingkungi oleh perkara-perkara yang dibenci (nafsu) dan neraka dilingkungi oleh perkara-perkara yang digemari (nafsu) syahwat.” (HR. Muttafaqun 'Alaih)
Semoga kita menjadi hamba yang selalu introspeksi dan istikamah dalam kebaikan Amin.