Khutbah Pertama
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Alhamdulillah pada kesempatan Jumat yang mulia ini, kita masih diberikan rahmat, hidayah, serta inayah oleh Allah SWT sehingga kita masih bisa mengungkapkan rasa syukur dengan melaksanakan rangkaian ibadah salat Jumat di masjid ini dalam keadaan sehat wal afiat.
Sebagai wujud rasa syukur kita kepada Allah SWT, marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita dengan sebenar-benar keimanan dan sebaik-baik ketakwaan. Minimal dengan cara imtitsalu awamirihi wajtinabu nawahihi, yaitu menjalankan apa pun yang dilarang-Nya. Sebab dengan jalan takwa inilah Allah menjanjikan kemuliaan bagi hamba-hamba-Nya, sebagaimana terfirman dalam Al-Quran:
Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu” (Surah Al-Hujurat: 13).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah...
Salah satu tujuan utama dari ajaran Islam adalah menghadirkan kebahagiaan di tengah-tengah manusia. Sebagai makhluk sosial, tentu manusia tidak akan terlepas dengan hubungan terhadap sesama. Permusuhan yang terjadi antar manusia tentu akan menyebabkan kesengsaraan. Sebaliknya, komunikasi yang baik akan menyebabkan ketentraman dan kedamaian di tengah-tengah manusia.
Oleh sebab itu, Islam mengajak dan menganjurkan pemeluknya untuk terus menyambung silaturahim sebagai bentuk komunikasi yang baik. Sebaliknya Islam mengecam setiap muslim yang memutus silaturahim. Karena akan menyebabkan banyak mafsadah di tengah-tengah masyarakat. Komunikasi yang baik antar sesama akan membangun kedekatan. Ketika mereka dekat dan saling mengenal, terbangunlah sikap saling bahu membahu dan gotong royong. Di situlah akan tercipta masyarakat yang harmonis, damai, dan tentram.
※ Hak Asasi Manusia dalam Perspektif Islam
Ketika kita merujuk kepada ajaran-ajaran Islam, terdapat banyak dalil yang menunjukkan perhatian Islam yang begitu besar terhadap silaturahim. Di mana silaturahim merupakan akar dari komunikasi yang baik. Jika komunikasi yang baik itu terpenuhi, maka terwujudlah kebaikan bermasyarakat. Sebaliknya, jika terjadi komunikasi yang tidak baik maka akar dari segala macam penyakit sosial akan muncul. Dan di situlah tanda-tanda kehancuran masyarakat.
Allah di dalam Al-Quran Surah An-Nisa’ ayat 1 berfirman,
Yang artinya,
“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”
Menurut Dr. Abdulfattah Al-‘Iwari, melalui ayat di atas Islam tidak hanya memahami silaturahim dalam makna yang sempit terbatas pada hubungan kita dengan saudara-saudara dan kerabat kita saja, melainkkan juga terdapat yang disebut dengan “Ar-Rahim Al-Kubra” yang bermakna silaturahim kemanusiaan di seluruh dunia. Di mana hal itu mencakup nilai persaudaraan kemanusiaan yang tak memandang identitas suku, ras, dan agama.
Bahkan menurut pendapat Dr. Abdulfattah Al-‘Iwari, salah satu fondasi dari agama adalah menjaga silaturahim. Kalau kita menengok pada sejarah Arab pra-Islam, terdapat tradisi seruan untuk menyambung silaturahim satu sama lain. Mereka, bangsa Arab acapkali mengatakan: “aku menyeru padamu demi Allah dan silaturahim!”. Namun sayangnya di dalam masyarakat kita hari ini, nilai luhur silaturahim telah memudar dikalahkan oleh sikap individualisme dan kebencian. Itulah kondisi di mana syariat Ilahi dan ajaran-ajaran-Nya telah diabaikan oleh manusia. Sehingga akibatnya, muncul permusuhan dan penyakit-penyakit sosial di tengah-tengah masyarakat.
Selain sebagai fondasi sosial, silaturahim juga dapat menebar keberkahan dan kebaikan yang teramat luas di dalam masyarakat. Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasllam juga mendefinisikan maksud dari silaturahim dalam Islam, yaitu:
“Tiada yang disebut penyambung silaturahim itu adalah orang yang memenuhi kebutuhan orang lain. Akan tetapi yang dimaksud penyambung silaturahim adalah apabila suatu hubungan itu putus, maka ia merajutnya kembali” (HR Al-Bukhari: 5532)
Kemudian, ancaman bagi pemutus silaturahim disampaikan dalam sabda Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
"Tiada masuk surga, orang yang memutus tali silaturahim.”
Demikian khutbah yang singkat ini, semoga bermanfaat bagi kita semua. Semoga Allah taala memberikan kita kekuatan untuk berbuat kebaikan, serta menjauhkan kita dari hal-hal yang memunculkan kemarahan-Nya. Amin Ya Rabbal Alamin.