Skip to content

Syekh Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Pengarang Tafsir Al-Maraghi

Di dunia keilmuan Islam, nama Al-Maraghi tidaklah asing didengar. Nama keluarga yang mengharum berkat ilmu. Inilah biografi Syekh Ahmad Mushthafa.

FOTO Syekh Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, pengarang Tafsir Al-Maraghi. (dok. penulis)
FOTO Syekh Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, pengarang Tafsir Al-Maraghi. (dok. penulis)

Ketika Tafsir Al-Maraghi disebut, pikiran sebagian orang akan secara spontan menggambarkan bahwa pengarangnya adalah Imam Akbar Muhammad Mushthafa Al-Maraghi, Syekhul-Azhar. Padahal jika mereka mau melihat barang sebentar saja pada sampul tafsir tersebut, disitu tertulis dengan jelas bahwa pengarangnya bernama Ahmad, bukan Muhammad. Artinya, itu adalah orang yang berbeda.

Sebagian lain menganggap Ahmad itulah yang menjadi Syekhul-Azhar. Hal ini bisa saja terjadi karena khalayak luas belum mengenal atau pernah mendapati biografi dua sosok yang dimaksud, yakni Muhammad dan Ahmad. Kalaulah dua sosok ini dikenal dengan baik, tentu tidak akan terjadi ketercampur-adukan dalam mengenali mereka berdua.

Melihat sudah banyaknya tulisan, artikel, dan semacamnya yang keliru mengenai hal ini, perlulah kiranya kita mengenal siapa sosok pengarang Tafsir Al-Maraghi melalui biografi ini.

Keluarga Al-Qadhi

Sebagaimana disebutkan oleh Syekh Ahmad Al-Maraghi sendiri dalam Tarikh ‘Ulum Al-Balaghah wa At-Ta’rif bi Rijaliha, keluarganya sejak dahulu dikenal sebagai khadim keilmuan dan kehakiman (al-‘ilm wa al-qadha). Karena itu, keluarga ini dijuluki dengan keluarga Al-Qadhi. Bahkan, distrik tempat tinggal keluarga ini juga dinamai dengan Distrik Al-Qadhi.

Kepala keluarga ini bernama Mushthafa bin Muhammad bin Abdulmun’im. Seorang sayid yang dikenal dengan keilmuan, ketakwaan, dan kemuliaannya. Ia dianugerahi 12 orang anak: 8 laki-laki dan 4 perempuan. Untuk anak laki-laki, jika diurut dari tahun kelahirannya, Muhammad Al-Maraghi adalah anak yang tertua (1881 M), lalu disusul adiknya Ahmad Al-Maraghi (1883 M), Abdul’aziz Al-Maraghi (1901 M), Abdullah Al-Maraghi (1903 M), dan Abulwafa Al-Maraghi (1905 M). Sementara 3 saudara lainnya belum ditemukan riwayat tentang tahun kelahiran mereka, yaitu Yusuf Al-Maraghi, Mushthafa Al-Maraghi, dan Ismail Al-Maraghi. Lima anak laki-laki yang diketahui tahun kelahirannya tersebut kelak menjadi ulama Al-Azhar.

Dari sini, kita jadi tahu bahwa sosok yang bernisbah Al-Maraghi tak hanya satu. Kita juga jadi tahu bahwa Muhammad Al-Maraghi yang kelak menjadi Imam Akbar Al-Azhar adalah kakak tertua Ahmad Al-Maraghi, sosok pemilik Tafsir Al-Maraghi yang ditulis dalam biografi kali ini.

Kelahiran dan Masa Belajar

Sosok yang dituliskan kali ini bernama Ahmad Bik Mushthafa Al-Maraghi Al-Hasani Al-Hanafi Al-Azhari Ad-Dar’ami. Bik yang berada di belakang namanya adalah gelar bangsawan yang diberikan oleh pemerintah Mesir kala itu atas khidmah terhadap dunia intelektual. Al-Maraghi adalah nisbah ke daerah Al-Maraghah, salah satu daerah di selatan Mesir (Sha’id). Kemudian, Al-Hasani merujuk kepada marga ahlulbait dari jalur Imam Al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib. Sedangkan Al-Hanafi, merujuk kepada mazhab fikih yang ia ikuti. Al-Azhari merujuk kepada institusi Al-Azhar tempat ia belajar. Terakhir, nisbah Ad-Dar’ami merujuk kepada Darul ‘Ulum (sekarang menjadi salah satu fakultas di Universitas Kairo, Mesir).

Ia dilahirkan pada hari Rabu, 8 Zulhijah 1300 H (10 Oktober 1883 M) di Distrik Al-Qadhi, Markaz Al-Maraghah, Provinsi Jirja (465 km dari Kota Kairo). Pada hari ini, Markaz Al-Maraghah masuk ke dalam Provinsi Suhaj, Mesir. Di desa inilah ia bertumbuh-kembang dan menghafal Al-Quran. Ia menyelesaikan hafalannya di usia 7 tahun. Tahun-tahun sebelum kepergiannya ke Kairo ia manfaatkan dengan menyempurnakan tajwid dan keilmuan dasar lainnya.

Pada tahun 1314 H (1897 M), di saat usianya mencapai 14 tahun, ia mulai merantau ke Kairo untuk belajar di Al-Azhar. Di sini ia belajar dengan semisal Syekh Muhammad ‘Abduh, Syekh Muhammad Bakhit Al-Muthi’i, Syekh Muhammad Hasanain Makhluf, dan Syekh Ahmad Mahjub Ar-Rifa’i. Ia menggunakan waktunya selain belajar untuk menghafal banyak matan keilmuan yang dipelajari saat itu.

Ia adalah sosok pejuang. Mampu menamatkan jenjang pendidikan Al-Azhar dengan tepat waktu pada tahun 1326 H (1909 M), yakni 12 tahun masa minimal belajar, sebagaimana qanun Al-Azhar kala itu (Qanun Al-Azhar Tahun 1896 M). Kegigihannya dalam belajar tak hanya sampai disitu. Pada tahun yang sama ini ia juga menamatkan belajar di Madrasah Darul ‘Ulum. Dalam autobiografinya yang terhimpun dalam Tarikh ‘Ulum Al-Balaghah wa At-Ta’rif bi Rijaliha, tidak disebutkan kapan ia mulai memasuki madrasah ini. Namun, jika melihat qanun kala itu (Qanun Darul ‘Ulum 1897 M), jenjang Darul ‘Ulum dilalui selama empat tahun. Artinya, bisa jadi ia memasuki madrasah ini di samping pendidikannya di Al-Azhar pada tahun 1322 H (1905 M).

Masa Pengabdian

Syekh Ahmad Al-Maraghi mengawali jenjang karirnya di Madrasah Al-Amiriyyah, lalu dilantik sebagai pengawas di Madrasah Al-Mu’allimin Fayyum. Setelah beberapa waktu, ia menjadi pengajar di Jurusan Bahasa Arab dan Syariah Islamiah di Kuliah Gordon atau yang sekarang dikenal dengan nama Universitas Khartum, Sudan dari tahun 1335-1339 H (1917-1921 M).

Sekembalinya ke Mesir, ia mengajar di Madrasah Darul ‘Ulum di jurusan yang sama sebagaimana di Sudan, sebagai dosen Bahasa Arab dan Syariah Islamiah. Hal ini terus ia emban hingga akhir hayatnya. Di sini, karirnya terus naik, hingga ia dilantik menjadi Ketua Prodi Balaghah, hingga pensiun pada tahun 1362 H (1943 M). Pada saat pemberian penghargaan, ia menerima gelar “Bik”, sebuah gelar bangsawan yang diberikan oleh pemerintah Mesir kala itu atas perannya dalam bidang keilmuan. Selain itu, di sela-sela mengabdi di Darul ‘Ulum, ia juga mengajarkan mata kuliah Balaghah di Fakultas Bahasa Arab, Universitas Al-Azhar.

Resensi

Kumpulan ulasan buku dan kitab menarik dapat teman-teman baca

di sini

Selain mengajar di lembaga formal, ia juga mengajar di Masjid Al-Jalad, Helwan, tak jauh dari kediamannya. Dalam Tarajim A’yan Al-Usar Al-‘Ilmiyyah fi Mishr disebutkan bahwa ia memiliki pengajian di masjid tersebut setiap selesai salat Subuh dan Magrib, sembari menjawab pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat.

Karya Tulis

Selain mengajar, Syekh Ahmad Al-Maraghi juga aktif menulis dan berkarya. Jika melihat dari apa yang ia tulis di dalam beberapa mukadimah bukunya, terlihat bahwa banyak dari bukunya dijadikan sebagai diktat dan bahan ajar di Darul ‘Ulum dan Al-Azhar. Tentu saja, ia menulis bukan hanya sebab itu. Sejumlah karya tulisnya lainnya misalnya sebagaimana yang ia tuliskan dalam Tarikh ‘Ulum Al-Balaghah wa At-Ta’rif bi Rijaliha, yaitu:

-       Tafsir Al-Maraghi (30 juz/10 jilid). Sebuah tafsir lengkap dari Al-Fatihah hingga An-Nas. Tafsir ini adalah tafsir yang berbeda dengan apa yang ditulis oleh kakak kandungnya, Syekh Muhammad Al-Maraghi, yang hanya berisi beberapa surah dan tema saja. Namun, perlu disebutkan lebih jelas di sini agar tidak ada kekeliruan antar dua tafsir itu;

-       Hidayah Ath-Thalib fi An-Nahw wa Ash-Sharf wa Al-Balaghah (dua juz: juz pertama membahas nahwu dan sharaf; juz kedua membahas balaghah) ;

-       Tahdzib At-Taudhih fi An-Nahw wa Ash-Sharf (ditulis bersama Muhammad Salim Ali) ;

-       ‘Ulum Al-Balaghah Al-Bayan Al-Ma’ani Al-Badi’;

-       Tarikh ‘Ulum Al-Balaghah wa At-Ta’rif bi Rijaliha;

-       Mursyid Ath-Thullab fi ‘Ulum Al-Balaghah;

-       Buhuts wa Ara fi Funun Al-Balaghah;

-       Al-Mujaz fi Tarikh Al-Adab Al-‘Arabi;

-       Al-Wajiz fi Ushul Al-Fiqh;

-       Ad-Diyanah wa Al-Akhlaq;

-       Al-Hisbah fi Al-Islam;

-       Risalah Ar-Rifq bi Al-Hayawan fi Al-Islam;

-       Risalah fi Tafsir Juz Innama As-Sabil;

-       Risalah fi Syarh Tsalatsin Haditsan Mukhtarah;

-       Risalah fi Itsbat Ru'yah Al-Hilal fi Ramadhan;

-       Risalah fi Al-Khuthab wa Al-Khuthaba fi Ad-Daulatain Al-Umawiyyah wa Al-‘Abbasiyyah; dan

-       Risalah fi Mushthalah Al-Hadits.

Akhir Hayat

Syekh Ahmad Al-Maraghi melalui kehidupannya selama 71 tahun menurut hitungan kalender Hijriah. Ia menutup mata pada 16 Syawal 1371 H (9 Jul 1952 M) di kediamannya yang berada di Helwan, Kairo, Mesir. Jasadnya dimakamkan di pemakaman keluarga Al-Maraghi yang tak jauh dari Masjid Sayidah Nafisah, Kairo.

Ia meninggalkan 10 anak: 3 perempuan dan 7 laki-laki. Adapun anak laki-lakinya yaitu ‘Aziz, Yusuf, Hilmi, Hamid, ‘Adil, ‘Ashim, dan Madahat.

Dalam Majalah Al-Azhar edisi Rabiulakhir 1405 H (Januari 1985 M), muridnya, Mahmud Abdurraziq ‘Uqbawi menuliskan bahwa kediaman Syekh Ahmad senantiasa dikunjungi oleh orang Indonesia dan Malaysia, bahkan mereka menziarahinya di kemudian hari pasca wafatnya. Semoga rahmat Tuhan senantiasa tercurah kepada sosok ini, baik di kala hidup, wafat, hingga dibangkitkan kelak. Amin.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik BIOGRAFI atau tulisan menarik Amirul Mukminin

Latest