Skip to content

Syekh Muhammad Abdul‘azhim Az-Zurqani, Mufasir Pengarang Manahil Al-‘Irfan

Riwayat hidup sang mufasir Azhari penulis kitab Manahil Al-‘Irfan yang mendedikasikan diri untuk dakwah, pendidikan, dan pembelaan Al-Quran.

FOTO Kitab Manahil Al-‘Irfan fī ‘Ulum Al-Qur'an karya Syekh Az-Zurqani. (Foto penulis)
FOTO Kitab Manahil Al-‘Irfan fī ‘Ulum Al-Qur'an karya Syekh Az-Zurqani. (Foto penulis)

Kitab Manahil Al-‘Irfan fī ‘Ulum Al-Qur'an hingga kini masih menjadi rujukan penting dalam pelajaran ilmu Al-Quran di berbagai perguruan tinggi Islam. Kitab ini dikenal sebagai salah satu karya awal yang menghimpun pembahasan ilmu Al-Quran dengan metode dan pembahasan termutakhir sejak dimulainya periode berdirinya Universitas Al-Azhar modern.

Penulis kitab ilmu Al-Quran ini adalah Muhammad bin Abdul‘azhim Az-Zurqani Al-Asy’ari Al-Maliki Al-Azhari. Meskipun bernisbah “Az-Zurqani” yang merujuk pada daerah Zurqan di Mesir, beliau lahir di Al-Ja’fariyyah, Kota As-Santhah, Provinsi Al-Gharbiyyah, Mesir. Gelar “Al-Asy’ari” merujuk kepada akidah Imam Abu Al-Hasan Al-Asy’ari, sedangkan “Al-Maliki” mengacu pada mazhab fikih Imam Malik—sebagaimana ditulis oleh Syekh Abu Al-Wafa Al-Maraghi dalam Al-Mu’jam Al-Ashghar bi Tarajim wa Mu'allafat ‘Ulama' Al-Azhar. Adapun “Al-Azhari” menunjukkan keterkaitannya dengan institusi Al-Azhar tempat beliau menimba ilmu.

Masa Belajar

Perjalanan intelektual Az-Zurqani muda dimulai pada tahun 1328 H (1911 M), saat ia memulai pendidikan di Ma’had Al-Azhar Thantha (Al-Jami’ Al-Ahmadi).

Saat itu, Syekh Salim Al-Bisyri menjabat sebagai Syekhul-Azhar untuk periode kedua. Reformasi sistem pendidikan pun berlangsung, termasuk perubahan lama waktu studi yang asalnya 4 tahun. Berdasarkan Qanun Al-Azhar 1911, setiap jenjang pendidikan (Al-Awwali, Ats-Tsanawi, dan Al-‘Ali) diatur berlangsung selama 5 tahun. Dengan demikian, Syekh Az-Zurqani menyelesaikan jenjang Al-Awwali pada 1916 M dan jenjang Ats-Tsanawi pada 1921 M.

Untuk jenjang Al-‘Ali, ia menamatkannya pada 1925 M. Perubahan ini terjadi seiring Qanun Al-Azhar 1923 M yang ditetapkan oleh Syekh Muhammad Abu Al-Fadhl Al-Jizawi, yang kembali mengatur masa studi setiap jenjang menjadi 4 tahun.

Masa Mengabdi

Tak lama setelah lulus, pada 1926 M, Syekh Muhammad Abdul‘azhim Az-Zurqani mulai mengajar di Ma’had Al-Azhar Az-Zaqaziq. Beberapa waktu kemudian, beliau dipindahkan ke Ma’had Al-Azhar Thantha, tempat beliau dahulu menimba ilmu.

Dalam Al-Jami’ Al-Ahmadi Syaqiq Al-Jami’ Al-Azhar, Syekh Mujahid Al-Jundi menyebut bahwa Kepala Ma’had Al-Azhar Thantha mempercayakan Az-Zurqani sebagai penyelia kurikulum dan ketertiban. Hal ini tercatat dalam dokumen resmi tertanggal 6 Rajab 1347 H (18 Desember 1928 M) yang masih tersimpan.

Pada fase berikutnya, beliau juga diamanahi peran keagamaan dalam lingkup kenegaraan: menjadi imam dan khatib khusus bagi Bahriyah Al-Malik (Angkatan Laut Kerajaan), angkatan yang langsung berada di bawah Raja Faruq. Tugas ini diberikan di bawah komando Ahmad Bik Badr, menandakan besarnya kepercayaan kerajaan kepada beliau.

Meski begitu, dunia pendidikan tetap menjadi pelabuhan utama dalam hidupnya. Syekh Az-Zurqani kembali ke ranah akademik dan menjadi pengajar di Ma’had Al-Azhar Kairo. Pada 1939 M, beliau secara resmi diangkat sebagai dosen ilmu Al-Quran dan hadis di Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar.

Aktivisme Intelektual

Komitmen Syekh Muhammad Abdul‘azhim Az-Zurqani terhadap dakwah dan pembelaan terhadap Al-Quran dan sunah begitu menonjol. Ia aktif menjawab tantangan pemikiran modern yang menyimpang. Ia menjadi Sekjen Jabhah ‘Ulama’ Al-Azhar, sebuah organisasi yang membela nilai-nilai Islam dan independensi lembaga keulamaan.

Beliau juga menjadi anggota Jam’iyyah Al-Hidayah Al-Islamiyyah—organisasi intelektual yang didirikan oleh Syekh Muhammad Al-Khadhir Husain (kelak menjadi Syekhul-Azhar). Organisasi ini menghimpun para pemikir dan cendekiawan Islam pada zamannya. Selain itu, beliau terlibat dalam Jam’iyyah Makarim Al-Akhlaq yang aktif menyebarkan dakwah melalui masjid dan forum-forum publik.

Karya Tulis

Di samping tugas mengajar dan berdakwah, Syekh Az-Zurqani juga dikenal sebagai penulis produktif. Artikel dan karyanya tersebar di berbagai media, seperti Majalah Al-Azhar, Majalah Al-Fath, dan Jabhah ‘Ulama’ Al-Azhar.

Beberapa karya penting beliau yang berupa buku antara lain:

  • Manāhil Al-‘Irfān fī ‘Ulūm Al-Qur'ān
  • Al-Manhal Al-Hadīts fī ‘Ulūm Al-Hadīts
  • Risālah fī Al-Wa’zh wa Al-Irsyād wa Thuruqihimā
  • Risālah fī Al-Bida’ wa Mauqif Al-Islām Minhā

Resensi

Kumpulan ulasan buku dan kitab menarik dapat teman-teman baca

di sini

Para Guru dan Murid

Di masa studinya, Syekh Az-Zurqani berguru kepada sejumlah ulama besar Al-Azhar, seperti Syekhul-Azhar Muhammad Al-Khadhir Husain, Syekh Ali Mahfuzh, Syekh Muhammad Asy-Syirbini, Syekh Abdulmajid Al-Labban, Syekh Muhammad Abdullah Diraz, dan Syekh Amin Asy-Syaikh—yang semuanya termasuk anggota Hai'ah Kibār Al-‘Ulamā’ di Al-Azhar. Selain itu, beliau juga berguru kepada Syekh Mahmud Abu Daqiqah, pengarang Al-Qaul As-Sadid fi ‘Ilmi At-Tauhid.

Adapun murid-muridnya pun kelak menjadi tokoh penting. Di antara mereka adalah:

Tentang gurunya, Syekh Muhammad Abu Syahbah berkata:

“Beliau adalah guru kami, seorang ‘allāmah, Syekh Muhammad Abdul‘azhim Az-Zurqani, penulis Manāhil Al-‘Irfān—dengan penyajian ilmiah yang mudah namun sarat faedah. Dua kitabnya, Manāhil Al-‘Irfān dan Al-Manhal Al-Hadīts, telah dicetak dan sangat bermanfaat bagi para penuntut ilmu.”

Wafat

Setelah hidup yang dihabiskan untuk mengajar, berdakwah, dan menulis, Syekh Muhammad Abdul‘azhim Az-Zurqani wafat di Kairo pada bulan Safar 1367 H (Desember 1947 M). Tanggal wafatnya tidak disebutkan secara pasti dalam literatur, semua sumber hanya menyertakan tahun saja, dan bahkan banyak sumber keliru mencantumkan tahun wafat dalam Masehi sebagai 1948 M.

Namun, penulis berhasil memastikan bulan dan tahun wafat berdasarkan kalimat duka (obituarium) murid beliau, Syekh Muhammad Al-Ghazali, dalam Surat Kabar Asy-Syarq Al-‘Arabī Edisi 26 (6 Safar 1367 H / 19 Desember 1947 M). Mengingat pola terbit surat kabar kala itu yang berkisar harian atau mingguan, dapat diperkirakan bahwa wafatnya terjadi sehari hingga seminggu sebelum surat kabar ini terbit.

Semoga ilmu dan keteladanan yang diwariskan Syekh Az-Zurqani terus menjadi cahaya bagi generasi selepasnya. Amin.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik BIOGRAFI atau tulisan menarik Amirul Mukminin

Latest